algoritma e-commerce
cara aplikasi belanja tahu barang yang anda butuhkan sebelum anda tahu
Pernahkah kita lagi iseng rebahan, membuka aplikasi belanja si oren atau si hijau, lalu tiba-tiba melihat rekomendasi barang yang... kok pas banget? Kita baru saja membatin ingin beli rak sepatu kayu yang estetik, eh tiba-tiba barangnya muncul di halaman depan. Pernahkah teman-teman merasa smartphone kita ini diam-diam menguping pembicaraan kita? Rasanya merinding, kan? Pikiran kita langsung melayang pada teori konspirasi bahwa ada agen rahasia yang mengintai hidup kita. Tapi mari kita tarik napas sebentar. Kenyataan di baliknya sebenarnya jauh lebih elegan, sedikit lebih creepy, tapi sangat logis dan bisa dijelaskan oleh sains. Kita tidak sedang diuping. Kita sedang diprediksi.
Untuk memahami misteri ini, mari kita mundur sedikit ke awal tahun 2000-an. Jauh sebelum aplikasi belanja merajai layar ponsel kita, sebuah jaringan supermarket besar di Amerika Serikat berhasil melakukan hal yang luar biasa. Mereka bisa menebak bahwa seorang remaja perempuan sedang hamil, bahkan sebelum ayah kandungnya sendiri tahu. Bagaimana caranya? Mereka tidak menyewa detektif. Mereka hanya melihat pola belanja. Remaja itu mulai membeli losion tanpa pewangi, suplemen kalsium, dan sabun mandi ukuran ekstra besar. Otak manusia secara psikologis adalah mesin pembuat kebiasaan. Kita sering merasa bahwa diri kita unik, spontan, dan penuh kejutan. Namun secara statistik, teman-teman, pola perilaku kita ini sangat mudah ditebak.
Sekarang, bayangkan konsep supermarket tadi diperkuat jutaan kali lipat oleh teknologi digital masa kini. Saat kita membuka aplikasi belanja, kita merasa sedang berjalan-jalan di mal raksasa secara bebas. Tapi, apakah benar kita bebas? Setiap milidetik yang kita habiskan di aplikasi tersebut sebenarnya sedang direkam. Berapa lama jempol kita berhenti saat melihat foto sebuah mesin pembuat kopi? Seberapa cepat kita menggulir kolom ulasan pembeli? Kapan kita memasukkan barang ke keranjang lalu membatalkannya di menit terakhir? Semua jejak digital super kecil ini atau yang disebut micro-behaviors dikumpulkan menjadi kepingan puzzle. Pertanyaannya, bagaimana jutaan kepingan puzzle dari jutaan orang ini bisa dirakit dalam hitungan detik untuk membaca isi kepala kita?
Di sinilah keajaiban hard science itu bekerja. Mari berkenalan dengan sistem bernama Collaborative Filtering dan Predictive Analytics. Ini bukan sihir pembaca pikiran, ini murni probabilitas dan matematika tingkat tinggi. Algoritma tidak perlu repot-repot menyadap mikrofon ponsel kita untuk tahu apa yang kita mau. Mereka menggunakan teknik pengelompokan massal lewat machine learning. Misalnya begini. Algoritma melihat bahwa ada seratus ribu orang yang pola gulir layar, jam aktif malam hari, dan riwayat kliknya sama persis dengan kita. Tiga hari yang lalu, seratus ribu orang ini tiba-tiba membeli payung lipat dan jas hujan karena musim mulai berganti. Karena profil kebiasaan kita identik dengan mereka, sistem akan langsung menyodorkan payung lipat ke layar kita hari ini. Aplikasi belanja tahu apa yang kita butuhkan sebelum kita menyadarinya, karena mereka sudah melihat "masa depan" kita dari orang-orang yang memiliki jejak psikologis persis seperti kita. Kita tidak diintai sebagai individu, kita dipetakan sebagai bagian dari kelompok.
Rasanya mungkin agak mengecewakan saat menyadari bahwa perilaku kita tidak seunik yang kita kira. Namun, di sinilah letak pentingnya menumbuhkan cara berpikir kritis. Mengetahui fakta ilmiah di balik layar aplikasi ini seharusnya tidak membuat kita paranoid dan membuang ponsel kita. Sebaliknya, pemahaman ini memberi kita kekuatan. Saat kita sadar bagaimana algoritma bekerja, kita bisa mengambil alih kendali. Lain kali sebuah barang lucu muncul di beranda dan jari kita gatal ingin mengeklik tombol beli, kita bisa berhenti sejenak dan tersenyum. Kita bisa bertanya pada diri sendiri dengan penuh empati: apakah saya benar-benar butuh barang ini, atau saya hanya sedang mengikuti koreografi yang sudah disiapkan oleh mesin? Teknologi diciptakan untuk memudahkan hidup kita, bukan untuk mendikte isi dompet kita. Mari kita tetap menjadi manusia yang berkesadaran penuh, satu checkout pada satu waktu.